Ads (728x90)

BUDIDAYA SEMANGKA ORGANIK
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ORGANIK NASA

Budidaya Semangka secara organik dengan menerapkan teknologi organik dari PT. Natural Nusantara ( NASA ) ini dapat Anda baca juga melalui NaturalNusantara.org.


budidaya semangka organik nasa

I. PENDAHULUAN

Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca /iklim, serta teknis budidaya petani.

PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).


II. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

  • Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan.
  • Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam.
  • Suhu optimal ± 250 C.
  • Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.

2. Media Tanam

  • Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan.
  • Cocok pada jenis tanah geluh berpasir.
  • Keasaman tanah (pH) 6 - 6,7.


III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Pembibitan

1.1. Penyiapan Media Semai
  • Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
  • Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .
  • Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8x10 cm sampai terisi hingga 90%.
1.2. Teknik Perkecambahan Benih
  • Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam).
  • Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari.
  • Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.
1.3. Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit
  • Media semai disiram air bersih secukupnya.
  • Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
  • Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
  • Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 - 4 hari sekali.
  • Penyiraman 1-2 kali sehari.
  • Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.


2. Pengolahan Media Tanam

2.1. Pembukaan Lahan
  • Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan.
  • Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu.
2.2. Pembentukan Bedengan
  • Lebar bedengan 6-8 m,
  • tinggi bedengan minimum 20 cm.
2.3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada :
  • pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit ,
  • pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan
  • pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.
2.4. Pemupukan Dasar
  • Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam.
  • Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).
  • Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya diatas bedengan dengan dosis + 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
    • Alternatif 1 : Satu botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
    • Alternatif 2 : Setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.
2.5. Lain-lain
  • Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar.
  • Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.


3. Teknik Penanaman

panen semangka organik

3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
  • Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm.
  • Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.
3.2. Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.


4. Pemeliharaan Tanaman

4.1. Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 - 5 hari setelah tanam.

4.2. Penyiangan
  • Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak.
  • Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder.
  • Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun.
  • Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.
4.3. Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.

4.4. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.

4.5. Pemupukan
Waktu
Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)
ZA
TSP
KCl
Susulan I (3 hari)
40
-
40
Susulan II Daun 4-6 helai
120
85
80
Susulan III Batang 45–55 cm
170
-
30
Susulan IV Tanaman bunga
130

-


30
Susulan V Buah masih pentil
80
-
30
POC NASA ( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu
POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif 1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki


4.6. Waktu Penyemprotan HORMONIK
  • Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami.
  • Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot.
  • Penyemprotan pada umur 21 - 70 hari, interval 7 hari sekali.

4.7. Pemeliharaan Lain
  • Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat.
  • Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas.
  • Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.


5. Hama dan Penyakit

5.1 Hama
a. Thrips
  • Ciri : Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas.
  • Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak.
  • Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona.
b. Ulat Perusak Daun
  • Ciri : Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang.
  • Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona.
c. Tungau
  • Bentuk binatang : Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman.
  • Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat.
  • Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona.
d. Ulat Tanah
  • Ciri : Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman.
  • Pengendalian:
    • (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya;
    • (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura/Virexi atau Pestona.
e. Lalat Buah
  • Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar.
  • Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona.
5.2. Penyakit
a. Layu Fusarium
  • Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur.
  • Pengendalian:
    • (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami,
    • (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.
b. Bercak Daun
  • Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang.
  • Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu.
  • Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.
c. Antraknosa
  • Penyebab: seperti penyakit layu fusarium.
  • Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas.
  • Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.
d. Busuk Semai
  • Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.
  • Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati.
  • Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.
e. Busuk Buah
  • Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik.
  • Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.

f. Karat Daun
  • Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman.
  • Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang.
  • Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.
Catatan :

Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.


6. Panen

6.1. Ciri dan Umur Panen
  • Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman.
  • Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen).
6.2. Cara Panen

semangka organik nasa natural nusantara

  • Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer.
  • Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.

Posting Komentar